Sindikat Berkedok Koperasi Simpan Pinjam Raup Ratusan Miliar Rupiah

Kantor Budihardjo Adimuliyo (PT.BW). berdampingan dengan kantor adiknya, terletak di Jln MT Haryono 764 Kota semarang.

Diduga kuat pengurus PT. Berkah Waluya adalah sebuah sindikat berkedok koperasi simpan pinjam dan telah menghimpun miliaran rupiah dana masyarakat secara ilegal. Untuk melancarkan kegiatannya, PT. Berkah Waluya  mencatut nama PUSKOPPABRI.

Selama tiga hari berturut-turut Tim Investigasi NCW melakukan pemantauan di Jalan M.T. Haryono No. 764 Semarang. Tim telah menemukan berbagai kejanggalan berkaitan dengan praktek PT. Berkah Waluya (PT. BW-red) yang berkedok koperasi simpan pinjam.

Menurut Koordinator Tim Investigasi NCW, David K. Simatupang SH, MM, bahwa pengurus PT. BW patut diduga kuat sebagai sebuah sindikat yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal. Praktek-praktek yang merugikan masyarakat dan melanggar peraturan perundang-undangan perbankan ini wajib dihentikan.

“Hasil investigasi ini akan kami laporkan ke intansi penegak hukum untuk segara diambil tindakan tegas terhadap para pelaku. Karena, dalam prakteknya, PT. BW telah melakukan penyimpangan luar biasa. Disatu sisi bertindak sebagai leasing dan disisi lain sebagai koperasi simpan pinjam. Apalagi mencatut nama PUSKOPPABRI,” tegas David K. Simatupang SH,MM.

Sementara itu menurut Ketua Umum NCW, Drs. Syaiful Nazar, pihaknya telah melakukan klarifikasi kepada Mayjen TNI (Purn) H. Syamsu Djalal SH, MH sebagai salah Ketua Bidang Hukum PEPPABRI Pusat berkaitan dengan pencatutan nama PUSKOPPABRI oleh Budiharjo Adimuliyo.

Menurutnya, pihak Pengurus Pusat PEPPABRI belum mengetahui adanya temuan NCW berkaitan dengan pencatutan nama PUSKOPPABRI oleh pengurus PT. BM.

“Untuk itu kami dari NCW diundang oleh DPP PEPPABRI pada Selasa (29/11) untuk memaparkan hasil investigasi NCW dan sejauhmana keterlibatan pihak PUSKOPPABRI,” jelas Syaiful Nazar.

Sementara itu, hasil wawancara Tim Investigasi NCW dengan berbagai pihak di sekitar alamat perusahaan tersebut terungkap bahwa di Jalan M. T. Haryono No. 764 Semarang  adalah perusahaan leasing otomotif. Sedangkan koperasi simpan pinjam berlokasi disampingnya, yakni di Jalan M. T. Haryono No. 766 Semarang yang adalah milik adik kandung Budihardjo Adimuliyo.

Tim investigasi lalu bertamu Kamis (24/11) di Jalan M. T. Haryono No. 764 Semarang untuk melakukan klarifikasi sesuai data dan temuan NCW. Dua orang sekuriti menemui tim dan merujuk menemui sekretaris pribadi Direktur Utama PT. BW bernama Rianda di ruang tamu.

“Pak Budiharjo Adimuliyo sedang di Jakarta. Sabtu baru kembali ke Semarang. Bapak-bapak tinggalkan alamat tempat menginap dan nomor kontak, “ kata Rianda diawal pertemuan.

Rianda mengaku sebagai sekretaris pribadi Budiharjo Adimuliyo. Dia juga mengakui bahwa Budiharjo Adimuliyo adalah pemilik PT. Berkah Waluya dengan memiliki 70 kantor cabang di Indonesia. “Karena kegiatan simpan pinjam itu tidak disini maka Pak Budihardjo Adimuliyo jarang ditempat,’ jelas Rianda.

Tetapi, Rianda membantah bahwa alamat tersebut yakni Jalan M. T. Haryono No. 764 adalah bukan alamat PT. Berkah Waluya, melainkan asrama guru Yayasan Maria Regina Semarang.

Kendati demikian tidak terlihat papan nama baik PT. Berkah Waluya atau Koperasi Simpan Pinjam PT. Berkah Waluya maupun Asrama Yayasan Maria Regina seperti pengakuan para nara sumber.

“Disini adalah asrama guru dan kesusteran Yayasan Maria Regina Semarang yang berpusat di Vatican. Kalau pak Budiharjo Adimuliyo adalah pimpinan Koperasi PT. Berkah Waluya,” jelas Rianda didampingi seorang sekuriti bernama Bowo sambil menuliskan nomor telepon kantor dan nomor HP perusahaan.

Kepada Tim Investigasi, Bowo mengungkapkan bahwa dirinya bukan anggota TNI atau Polri melainkan hanya pegawai sekuriti biasa. Menurutnya, pimpinan perusahaan PT. Berkah Waluya adalah benar Budiharjo Adimuliyo dan saya tahu ketika pembangunan gedung ini dilakukan oleh Pak Budiharjo Adimuliyo.

Dalam prakteknya, PT. BM melakukan kegiatan usaha pembiayaan dengan memberikan kredit kepada siapa saja dengan jaminan berupa BPKB baik roda dua maupun roda empat. Dimana, setiap nasabah dikenakan biaya administrasi. Bagi mereka yang mendapat pinjaman dibawah Rp. 5 juta, dikenakan biaya administrasi sebesar Rp.300.000. Sedangkan yang memperoleh pinjaman diatas Rp.5 juta, dikenakan biaya administrasi sebesar 5 %.

Dari 70 kantor cabang  pembiayaan itu  diperkirakan perusahaan itu telah memiliki lebih dari 70.000 nasabah  dan dana yang telah dihimpun sudah mencapai ratusan miliar rupiah. | ML | DV | SN | AMS | FK

Leave a Reply

ADVERTISEMENT

IndoNIC.net - Web Hosting Murah (cPanel), Gratis Domain
Log in