Tuntutan Buruh

Tanggal 1 Mei dunia memperingati Hari Buruh atau lebih dikenal dengan sebutan May Day, tak terkecuali di Indonesia. Sehari sebelum 1 Mei, buruh di berbagai kota telah mempersiapkan diri untuk turun ke jalan. Aparat Kepolisian pun siap mengamankan jalannya unjuk rasa.

“Tuntutannya tidak pernah geser. Itu terus…,” ujar Dulloh, mengomentari tuntutan buruh Indonesia yang dari tahun ke tahun tak pernah bergeser dari soal upah.

“Realisasi sistem jaminan sosial nasional (SJSN) juga menjadi tuntutan mereka. SJSN yang berjalan sesuai amanat UU 40/2004 diharapkan bisa meringankan beban buruh, khususnya saat sakit dan menghadapi masa tua,” timpal Kakung.

Di mata Kakung, jaminan sosial yang diberikan pemerintah akan membuat buruh lebih tenang bekerja karena pemerintah menjamin sepenuhnya biaya kesehatan dan jaminan hari tua bagi dirinya dan keluarga. “Tuntutan lainnya adalah penghapusan outsourcing. Sistem tersebut dianggap tak adil dan merugikan pekerja,” imbuhnya.

“Tiga tuntutan buru, yakni kenaikan upah, SJSN, dan penghapusan outsourcing, memang patut terus diperjuangkan. Yang penting para buruh itu tak hanya melihat kepentingannya sendiri, tetapi juga kepentingan yang lebih luas, yakni dunia usaha dan perekonomian nasional. Saat ini perekonomian nasional dalam proses pemulihan, sehingga dibutuhkan dukungan semua warga bangsa,” sambut Bang Trans, seraya mengatakan bahwa kebijakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang belum jelas ikut membebani perekonomian nasional.

Ya,  aspirasi buruh yang disampaikan di jalanan hendaknya dilakukan secara damai,” kata Dulloh.

“Selain persoalan dunia usaha dan perekonomian, buruh hendaknya melakukan introspeksi terkait produktivitasnya,” kata Kakung.

Dulloh dan Kakung yakin bila buruh meningkatkan produktivitasnya, upah yang diterima pun meningkat. Perusahaan yang merugi akibat produktivitas buruh rendah mustahil memberi upah layak. Kalau perusahaan untung, buruh juga menikmatinya.

“Ke depan produktivitas dan transparansi kondisi keuangan perusahaan harus mendapat perhatian serius,” harap Kakung.

“Apa mungkin,” Tanya Dulloh.

“Kan di luar faktor buruh dan pengusaha, masih ada pemerintah sebagai regulator dan pengawas aturan perburuhan. Lembaga tripartit yang mengakomodasi suara buruh dan pengusaha, serta difasilitasi pemerintah, harus diberdayakan,” jawab Kakung

“Jadi, bisa dipahami bahwa aksi buruh pada hari-hari tertentu setiap tahun bertujuan untuk mengingatkan pengusaha dan pemerintah. Buruh masih hidup dalam tingkat kesejahteraan yang masih minim. Inflasi yang bergerak lebih tinggi dibanding persentase kenaikan upah minimum provinsi/kabupaten/kota dan juga upah minimum sektoral, jelas membuat kehidupan buruh semakin sulit,” pungkas Bang Trans. | Ali Rahmat Siregar  

Leave a Reply

ADVERTISEMENT

IndoNIC.net - Web Hosting Murah (cPanel), Gratis Domain
Log in