Kementerian Agama Sudah Lama Menjadi Sarang Korupsi?

Jakarta, Trans — Praktek korupsi yang terjadi di Kementerian Agama diduga telah terjadi sejak jaman orde baru lalu, terutama di lingkungan Pendidikan Islam (Pendis).

Boleh jadi, tudingan itu muncul karena kasus korupsi pengadaan laboratorium bahasa di Madrasah Aliyah dan Tsanawiyah yang sampai saat ini masih tergantung di Kejaksaan Agung belum menyentuh pelaku di lingkungan Kementerian Agama, terutama Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Sejak zaman orba, Kementerian Agama menjadi bancakan banyak orang. Dan, dugaan korupsi Al Quran adalah hal yang sangat memalukan bagi umat Islam. Apalagi itu benar-benar dilakukan oleh wakil rakyat yang semestinya memberikan contoh yang baik bagi rakyat.

Lagi-lagi dikarenakan yang paling bertanggung jawab adalah Direktorat Jendral Pendidikan Islam (Pendis), Afandi Mukhtar. Jadi, diminta KPK agar punya keberanian membongkar dan jangan hanya, memperkuat isu untuk membangun gedung baru saja.

Sebelumnya Direktur Jenderal Pendidikan Madrasah Kementerian Agama, Dedi Djubaedi mengaku tidak mengetahui hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap anggaran pengadaan alat laboratorium bahasa untuk Madrasah Tsanawiyah (Mts) pada 2010 senilai Rp18 miliar yang diduga bermasalah.

Kemenag saat ini sedang melakukan investigasi internal untuk mengetahui pokok permasalahan penyimpangan dalam proses pengadaan proyek tersebut.

“Kami pro aktif dengan isu yang berkembang terkait dugaan kasus korupsi ini. Karena itu, kami melakukan investigasi internal dengan bekerjasama dengan inspektorat jenderal,” jelas Dedi, Kamis 5 Juli lalu.

Mantan rektor Institut Agama Islam Negeri Ambon mengaku sudah membantu menyediakan data-data yang diperlukan untuk diinvestigasi. Dedi menambahkan yang menjalankan dan bertanggungjawab untuk proyek pengadaan adalah unit layanan pengadaan (ULP) dan juga panitia pejabat pembuat komitmen (PPK).

“Posisi saya tidak melaksanakan proyek tersebut. Saya masuk saat pengadaan sudah berjalan. Saya memang tanda tangani surat persetujuan pelaksanaan itu, tapi sampai sekarang belum lihat hasil audit BPK,” paparnya.

Seperti diketahui, proyek pengadaan alat laboratorium dan Alquran tahun 2010-2011 ini tengah diselidiki oleh KPK. Anggota Komisi VIII DPR sekaligus anggota Badan Anggaran (Banggar) Zulkarnaen Djabar dan putra sulungnya Dendy Prasetya, Direktur Utama PT Karya Sinergi Alam Indonesia, sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap untuk kedua proyek tersebut. Mereka diduga menerima uang sebesar Rp4 miliar. | Tim NCW

FacebookTwitterGoogle+Share

Leave a Reply

ADVERTISEMENT

IndoNIC.net - Web Hosting Murah (cPanel), Gratis Domain
Log in