120×600 [tma]
120×600 [tma]

Havest City Mengubah Wajah Cileungsi

Tiga pengembang dengan kemampuan mumpuni di bidangnya masing-masing bersatu membangun proyek perumahan terpadu.

Harvest City Town Center

Bogor, Koran Transaksi.com – Sebagai hasil kolaborasi dari tiga pelaku industri properti, Dwikarya Langgeng Sukses akan mengembangkan sebuah kota mandiri Harvest City seluas 1.050 hektar. Setelah sekian lama gaung perkembangan properti lebih banyak terdengar di kawasan Serpong dan Tangerang di barat Jakarta, kini gaung itu juga telah merambat hingga kawasan timur. Lihat saja, akan ada sebuah kota mandiri baru yang erjuluk Harvest City. Tepatnya, kota ini mau menyembul di Celeungsi.

Adalah Dwikarya Langgeng Sukses yang akan mengembangkan Harvest City. Tak tanggung tanggung si pengembang mendirikan kota mandiri di lahan seluas 1.050 hektare. Lantas, siapa Dwikarya Langgeng Sukses ini? Meski namanya baru terdengar, sejatinya Dwikarya bukan pemain baru di bidang properti. Dwikarya merupakan hasil kolaborasi dari tiga pengembang, yakni grup suryamas Duta makmur, grup Duta Putra Mahkota, dan Grup Kentanix Supra Internasional.

Ketiga pengembang itu membentuk konsorsium dengan komposisi saham Grup Suryamas Dutamakmur sebagai pemegang saham mayoritas, yakni sebanyak 50%. Sedangkan sisanya masing- masing 25% dimiliki Grup Duta Putera Mahkota dan Grup Kentanix Supra Internasional. Dengar adanya kolaborasi dari tiga pengembang serta lahan yang sangat luas, boleh jadi Harvest City bakal menjadi proyek terbesar di kawasan Cileungsi. Lebih lagi, lokasinya yang tepat berhadapan dengan Taman Buah Mekarsari.

Tak ayal, Havest City lebih mudah mengorbit. Kondisi ini tentu saja mengubah wajah Cileungsi. Sebelumnya, Cuma segelintir pengembang yang mengusik daerah ini. Malah hanya ada dua pengembang besar yang bercokol di sini, yakni grup Metropolitan yang mengembangkan Taman Metropolitan dan grup Ciputra yang memiliki Citra Indah Sementara, Bukit jonggol Asri yang dulunya akan menjadi proyek besar belakangan justru tenggelam, mencari arah.

Mungkin saja tak banyak pengembang tertarik menancapkan fondasinya di Cileungsi, lantaran lokasinya yang cukup jauh dari Jakarta. selain itu, pengembangan Cileungsi seolah tertahan oleh pertumbuhan yang super mekar di kawasan Cibubur. Letak Cibubur yang lebih dekat dengan Jakarta kemudian menjadi maknet baru di timur Jakarta. “ Sudah begitu, perkembangannya bukan melebar ke Cileungsi, tapi justru melebar kea rah T.B Simatupang, “ ujar Ali Tranghada , Business Development Advisor Pusat Strategi Intelijen Properti.

Alhasil, butuh waktu yang lama memelarkan perkembangan Cibubur kea rah Cileungsi. Makannya, lahan yang super luas belum tentu akan mempercepat pertumbuhan kawasan Cileungsi . menurut Ali , Harvest City harus mempunyai strategi pengembangan yang cukup bagus agar dilirik para konsumen. “ Minimal, konsepnya harus terbangun dengan baik, “ ujar Ali. Untuk mengejar waktu perkembangan lebih cepat mengarah ke Cileungsi, pengembang tampaknya juga harus punya keunikan untuk pemikat calon penghunniya.

Lantas, Ali memberi contoh konsep pengembangan kota wisata yang menjual China Town dan kampong wisata lainnya untuk memikat pengunjung. Untuk mengejar perkembangan lebih cepat kea rah Cileungsi ini, pengembang harus punya keunikan. “ Inilah keunikan yang membuat Kota Wisata tetap ada yang beli. Jadi, meskipun jauh, tetap diburu pembeli, “ ujar Ali.

Di samping itu, Anton Siturus Kepala Riset Jones Lang Laselle Indonesia, mengungkapkan bahwa perlu adfa konsistensi pengembang untuk menjadikan Cileungsi hidup, terutama dalam membangun infrastruktur menuju kawasan tersebut. Pasalnya, pengembang tak bisa mengandalkan akses Cibubur yang sudah terlampau padat.

“Lokasi yang jauh tidak akan menjadi masalah bila akses menuju lokasi bagus dan mudah, “ kata Anton. Tak lupa Anton menyebutkan pula contoh proyek lippo Karawaci dan Lippo Cikarang yang memiliki kemudahan akses. “ Biarpun lokasinya jauh, tapi infrastruktur jalan menuju kedua kawasan itu bagus. Akibatnya, kedua kawasan itu juga cepat pertumbuhanya, “ tutur anton. Pengembangan kota dalam tiga tahap Dwikarya sendiri mengaku mengusung konsep sebagai kota mandiri untuk mengembangkan lahan di Cileungsi ini.

Harvest City menawarkan fasilitas yang komplet di kawasannya. Sebut saja demi satu. Di sini akan dibangun pusat belanja Harves City Mall, culinary market alias pasar moderen, commercial area atau kompleks ruko. The Harvest Walk, discovery park, sport center, urban forest, hingga foot carnival.

Semua fasilitas tersebut nantinya terletak di area pusat bisnis ( CBD) Harvest City. Dengan banyaknya rencana menurut Erwin Kurniawan, Manajer Penjualan Harvest City, pengembangan Harvest City akan dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, pengembangan baru dilakukan di atas lahan seluas 150 hektare saja.

Erwin berani bilang komitmen perusahaan mengembangkan kawasan ini terbilang kuat. Buktinya, dari pengembangan lahan seluas 1.050ha, Dwikarya sudag rampung membebeskan hingga mencapai 750 ha lahan. “ Ini adalah Land yang kami persiapkan jauh –jauh hari. Mungkin sudah sepuluh tahun kami memilikinya, “ ujar Erwin.

Pada tahap pertama ini, pengembang akan menggarap kawasan permukiman, serta pusat bisnis yang ada di bagian tengah kawasan. Hanya, pada tahap awal, Dwikarya akan lebih fokos untuk membangun rumah –rumah tipe kecil atau high density. Targetnya, Dwikarya akan membangun 5.000unit hunian pada tahap awal. “ Tipe kecil banyak dipakai sebagai rumah pertama yang akan ditinggali oleh pembelinya, sehingga Harvest kelihatan hidup, “ ujar Erwin.

Ada dua jenis perumahan yang ditawarkan. Pertama, jenis realestat. Kedua, jenis rumah sederhana yang mendapatkan subsidi pemerintah. Untuk rumah sederhana, saat ini Harves telah menawarkan kluster Bromela sebanyak 250 unit. Kluster ini terdiri dari dua tipe, yakni tipe Bouhenia I ( 22m2/ 60m2) dan tipe Bouhenia II ( 22m2/ 65m2).

Banderol harga dua tipe itu mulai dari Rp 53juta. Selain kluster Bromelia, Harvest City juga tengah meluncurkan rumah rumah sederhana pada kluster Durio. “ Sekitar 236 unit sudah terjual dalam tempo tiga hari, “ kata Erwin. Kluster ini mempunyai tipe rumah sama persis dengan kluser Bromelia.

Sementara itu, untuk jens rumah realestat, pengembang Harvest City baru membuka kluster Dianthus yang menempati lahan seluas 24hektare. Dari total 150 unit rumah yang ditawarkan di kluster Diantus, Dwikarya merancang tiga tipe hunian. Yakni, rumah berukuran 43m2/78m2 , 51m2/ 112m2, dan 66m2. pengembang mematok harga rumah jenis realistat ini mulai Rp 250juta.

Pengembang juga menjanjikan pembangunan berbagai fasilitas pendukung ini di setiap tahap. “ Kami akan melengkapi semua fasilitaas, tapi besar kecilnya tergantung penghuni yang ada di lingkungan seluas 150hektare itu, ujar Erwin. Tak hanya itu. Erwin menyatakan, pengembang juga akan mengusahakan fasilitas yang tersedia di tahap satu, tahap dua, dan tahap tiga mempunyai karakteristik masing- masing.

Butuh waktu lama untuk berkembang Selanjutnya , pada tahap dua pengembang mulai menggarap rumah medium density yang terdiri dari rumah –rumah berukuran besar. Lahan yang disediakan untuk komplek s hunian ini seluas 100hektare.

Berbaengan dengan pembangunan rumah , pengembang juga akan membangun area komersial seluas 300hektare . tak lupa, pengembang menyediakan lahan untuk pusat bisnis Harvest City . Di area pengembangan tahap kedua ini pula akan melintas ruas jalan tol Cimangis – Cibitung yang merupakan bagian dari proyek Jakarta Outer Ring Road ( JORR) II. “

Ini nilai strateginya, Harvest berada di pertengahan antara Jakarta , Bogor dan Bekasi , “ ujar Erwin berpromosi. Tahap ketiga yang merupakan pengembangan tahap terakhir, Dwikarya akan mengembangkan klomplek hunian low density dan High rise building. Di tahap ini pula, pengembang mulai menyediakan kawasan industri ringan ( ligh industry ) yang focus pada penyediaan fasilitas ruang pengundangan.

Melihat konsep pengembangan nya , boleh jadi Harvest City menyimpan prospek yang cukup bagus. Apalagi perluasan megapolitan Jakarta kelak pasti juga akan mencapai Ciulengsi.

Cuma, seperti Ali bilang, arah pengembangan Cibubur yang melebar menyebabkan pengembangan Ciulengsi ini makan waktu yang relative lama. Meski begitu, melihat target pasar yang ditetapkan pengembang, mungkin itu bisa mempercepat laju pertumbuhan Ciulengsi. Banderol harga rumah realestat dalam kisaran Rp 200juta, menurut Ali, sesuai dengan harga pasar rumah di Ciulengsi yangposisinya ada di bawah Cibubur. Seperti kita ketahui, pasar perumahan di kelas ini sangat besar.

Nyatanya, memang tidak salah HarvestCity menyasar konsumen kelas menengah dari professional muda untuk properti huniannya. Hal ini terlihat dari penjualan rumah – rumah tipe kecil yang laris manis. Dengan begitu, ada harapan Harvest CITY in ibis juga mendongkrak perkembangan Ciulengsi. Sayangnya, melihat skala pembangunan yang sangat besar, tentu saja pengembang yang sangat besar, tentu saja pengembang yang sangat besar, tentu saja pengembang butuh waktu panjang pula untuk merampungkan seluruh proyeknya.

Bahkan, dari awal pihak pengembang sudah menyatakan bahwa proyek Harvest City ini merupakan proyek jangka panjang. “ Semuanya diperkirakan akan selesai dalam waktu 25 tahun, “ ujar Erwin. Oleh karena itu, untuk meneropong prospek Harvest City ini, calon konsumen juga harus mencermati konsistensi pengembang dalam mengembangkan lahanya. Apakah developer benar benar memenuhi semua fasilitas sesuai dengan rencana. “ Prospeknya bagus, tapi konsumen mesti cermat saja, “ ujar Anton.

 

Menandingi Cibubur

Selain membuat semarak Ciulengsi, tak tertutup kemungkinan Harvest City akan mengimbangi geliat pertumbuhan properti di Cibubur. Soalnya, luas lahan Harvest City yang 1.050ha jelas mengungguli Cibubur yang hanya punya izin prinsip atas pengembangan lahan 1.000ha. luas lahan yang dikuasai PT Dwikarya Langgeng Sukses ini hanya bisa dikalahkan oleh proyek Bukit Jonggol seluas 30.000ha. Pengembang an Harvest City kelak akan menciptakan persaingan antar produk properti di Cibubur. Maklum saya, cukup banyak pengembang yang bercokol di wilayah Cibubur. Dari pengembangan kecil yang mengembangkan townhouse hingga pengembang besar seperti Group Duta Pertiwi dengan Kota wisata dan Legenda Wisatanya. Ada juga Grup Puribrasali yang membangun perumahan The Anddres. Tak pelak, Hrvest City bisa menjadi pesaing tangguh.

Apalagi, adanya ruas tol Cimanggis – Cibitung akan memudahkan akses menuju Ciulengsi yang pasti akan memberi nilai tambah kota ini. Jika Dwikarya konsisten pada pengembangan sesuai dengan rencana, tentu saja dia akan menjadi ancaman bagi pengembang di Cibubur. Soalnya, pada tahap selanjutnya, ketika Harvest City mulai mendirikan rumah –rumah mewah, kota ini akan bersaing sengit dengan pengembang di kawasan Cibubur.

Apalagi, melihat sepak terjangnya, ketiga pemain properti yang ada dalam bendera Dwikarya ini bukanlah pengembang kemarin sore. Mereka pun bukan pemain bau kencur di daerah Cibubur. Tiga pengembang itu punya spesialis masing- masing di proyek hunian.

Grup Suryamas Dutamakmur yang punya kode saham di Bursa Efek Indonesia SMDM merupakan pengembang perumahan mewah seperti Rancamaya Golf di Rancamaya, Bogor, dan Mahagany Residenses di Cibubur .

Sementara grop Duta Putera Mahkota dan Kentanix Supra International lebih banyak mengantongi portofolio hunian skala menengah kebawah, seperti Bukit Golf Cibubur Reverside di Cibubur, Vila Nusa Indah I hingga VILA Nusa Indah lima di Bekasi, dan Vila Dago di pamulang, tangerang.

Hal itu adalah sinergi positif. Tiga pengembang dengan kemampuan mumpuni di bidangnya masing-masing bersatu membangun proyek perumahan terpadu. Proyek ini akan menjadi katalisator pertumbuhan properti khususnya dan ekonomi umumnya di koridor Cileungsi-Mekarsari. | Alx

Cileungsi Lari Cepat, Saat Cibubur Telah Padat

 

Ada beberapa pengembang kakap yang sudah dan bahkan baru memulai peruntungan di sini.

 

Bogor, Trans – Sungguh, Cibubur satu dekade silam, belumlah pantas dilirik. Kini, tak satu jengkal pun lahan kosong tak bertuan. Kekinian Cibubur adalah etalase perumahan berbagai kelas. Yang termurah seharga Rp250 juta dan tertinggi Rp3 miliar. Belum lagi parade bangunan komersial ritel yang memenuhi setiap sudut kawasan. Cibubur sekarang, jauh lebih hidup dan untuk itu, menyisakan banyak juga masalah. Tumpang tindih penataan ruang, dan silang sengketa kepentingan di antara tiga pemegang wilayah. Sekadar informasi, kawasan ini bertepian langsung dengan tiga kota; Bogor, Bekasi, dan Depok.

Lupakan Cibubur yang kian sesak dan padat. Mari beralih ke arah timurnya, yakni ruas Cileungsi-Narogong-Jonggol. Harga lahan yang sangat bersahabat bahkan bagi pengembang, ikut memicu perkembangan koridor ini. Mereka berlomba mengoleksi lahan seluas-luasnya demi merealisasikan mimpi menangkap pasar perumahan yang tak terakomodasi lagi oleh kawasan Cibubur.

Ada beberapa pengembang kakap yang sudah dan bahkan baru memulai peruntungan di sini. PT Metropolitan Land Development dengan Taman Cileungsi dan Taman Metropolitan, Grup Ciputra dengan Citra Indah dan PT Dwikarya Langgeng Sukses (konsorsium tiga pengembang Grup Duta Putra, Kenatinx Supra International dan Grup Suryamas Dutamakmur) yang menawarkan Harvest City, sekadar menyebut contoh.

Harvest City, menjadi buah bibir. Luas lahannya saja mencapai 1.050 hektar. Lokasinya berseberangan dengan Taman Buah Mekarsari dan rencananya akan berisi 10 ribu unit rumah. Kelas yang ditawarkan pun variatif, mulai dari bawah, menengah dan atas. Pengembangannya dilakukan secara bertahap. Tahap awal, akan dikembangkan 150 hektar. Harvest City melengkapi perumahannya dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti mall, ruko, rumah ibadah, dan sarana olahraga.

Menyusul popularitas Harvest City adalah Citra Indah. Perumahan ini sejatinya dikembangkan sejak 1997dengan konsentrasi penggarapan pada harga Rp50 jutaan. Kelas ini sengaja disasar mempertimbangkan kondisi kawasan yang juga berkembang sebagai kawasan industri. Sehingga menarik banyak pekerja yang berhasrat memiliki rumah sesuai dengan pendapatan mereka. Laiknya pengembangan perumahan milik Grup Ciputra lainnya, Citra Indah juga menyediakan rumah tipe menengah dan besar dengan kisaran harga di atas Rp350 juta.

Sementara PT Metropolitan Land Development kian gencar dengan Taman Metropolitan-nya. Menurut Nanda Widya, Direktur Utama PT Metropolitan Land Development, tahun ini Taman Metropolitan akan dimaksimalkan pengembangannya. Ada dua klaster yang tengah dibangun yakni Gloxinia berdimensi 45/90 hingga 86/219 dengan harga berkisar antara Rp 276 juta hingga Rp628 juta. Dan Taman Gandaria yang ditawarkan serentang Rp200 juta-400 juta.

Selain itu beberapa perumahan lain juga menyemarakkan kawasan ini. Di sekitar flyover, tepatnya di ruas Jl. Raya Narogong terdapat setidaknya lima perumahan; Cileungsi Hijau, Duta Mekar Sari, Taman Cileungsi, Villa Permata Mas, dan Putri Indah. Menyusul kemudian Bukit Putra yang berada di Jl. Raya Jonggol. Ini merupakan perumahan lama yang dimodifikasi menjadi baru.

Terlihat dari pengembangan eksisting rumah-rumah bergaya tahun 1990-an dan infrastruktur jalan yang sudah terbangun. Mereka saat ini sedang memasarkan rumah seharga Rp55 juta-200 juta. Beranjak ke arah Citeureup, Grup ISPI percaya diri melansir Mutiara Venezia Residence. Harga rumah yang ditawarkan tak jauh beda dengan pendahulunya.

Bergeraknya aktifitas konstruksi dan transaksi properti, tercatat Taman Metropolitan mampu menjual 10 unit per bulan, tak lepas dari rencana pengembangan ruas tol JORR II yang menghubungkan Cimanggis-Cibitung. Kelak jika ini terealisasi, warga Cileungsi-Narogong-Jonggol, akan diuntungkan karena aksesibilitasnya langsung terkoneksi dengan ruas tol Jagorawi dan Cikampek. Dengan demikian, kawasan ini makin terbuka untuk terus tumbuh dan menjelma sebagai alternatif destinasi hunian dan investasi.

Apalagi, para pengembang ini tak sekadar membangun properti. Mereka juga membangun komunitas dengan menyediakan fasilitas standar untuk memenuhi kebutuhan warganya yang diperkirakan jumlahnya menyamai penduduk sekelas kota adminsitratif. Seperti fitur yang akan didirikan oleh Harvest City. Mereka tengah bersiap melansir Harvest City Mall, Culinary Market, The Harvest Walk, Discovery Park, Sport Center, Urban Forest dan Food Carnaval yang kesemuanya berada pada area komersial.

Yakin kawasannya akan berkembang, Taman Metropolitan pun tak ketinggalan. Ke depan mereka akan melangkapi proyeknya dengan sebuah pusat belanja dan komersial ritel lainnya. “Kami sadar ruas tol ini akan memberikan nilai tambah, untuk itu kami mengantisipasinya dengan dengan terus melakukan pengembangan strategis,” jelas Nanda.

Walhasil tak hanya kawasannya yang akan berkembang. Harga tanah di sekitar Jl Raya Cileungsi pun mulai terkerek naik. Dua tahun lalu masih dapat ditemui harga tanah Rp100 ribu/m2 hingga Rp200 ribu/m2 tetapi saat ini seperti di Harvest City harga tanahnya sudah mencapai angka Rp500 ribu/m2, begitu pun dengan Taman Metropolitan yang terus merangkak. Apalagi jika pembangunan tol JORR II rampung, harga diproyeksikan melonjak 30-50%. | Alx

 

Related posts

1 Comment

  1. dr nurhadi

    kami menawarkan tanah yg berbatasan dengan lokasi harvest,,luas tanah 5 hektar,,harga 350.000/mtr.tq

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *