Alumni AIM Jadi Penjaga Loket

Computer Assisted Test (CAT) yang dimanfaatkan Kementerian Hukum dan HAM untuk menempatkan pegawai, memberi kesan adanya tumpang tindih dengan tujuan pembentukan Akademi Imigrasi (AIM).

Jakarta, Trans – Akademi Imigrasi (AIM) adalah pendidikan kedinasan yang setara DIII di bawah Kementerian Hukum dan HAM RI. AIM didirikan pada tahun 1962, dan sempat terhenti selama 23 tahun, kemudian difungsikan kembali pada tahun 2000.

AIM bertujuan mencetak kader pimpinan di lingkungan Ditjen Imigrasi dan Kementerian Hukum dan HAM masa depan. L

Caption: Para pejabat Kemenkum HAM tengah mengerjakan tes dengan metode CAT dipandu sejumlah pegawai BKN (berdiri).

Caption: Para pejabat Kemenkum HAM tengah mengerjakan tes dengan metode CAT dipandu sejumlah pegawai BKN (berdiri).

ulusannya atau alumni AIM ditempatkan di seluruh kantor imigrasi di Indonesia atau di perwakilan imigrasi di luar negeri.

Namun, berdasarkan pantauan Koran Transaksi alum alumni AIM ternyata banyak ditempattkan di loket-loket pelayanan.          “Hal tentu tidak sejalan dengan tujuan proses pendidikan di AIM, yang melaksanakan tiga bagian pendidikan, yaitu pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan,” ujar Elman Sihombing, pengamat keimigrasian, di Jakarta, Sabtu pekan lalu.

Lebih jauh, Elman mengingatkan bahwa pengajaran di AlM adalah upaya pendidikan yang berbentuk kuliah, ceramah dan instruksi di kelas dengan tujuan untuk memperoleh, memperdalam dan memperluas ilmu dan pengetahuan akademis dalam pembentukan kepribadian taruna AIM, dengan titik berat pada aspek kecerdasan dan kemampuan intelektual.

Sedangkan pelatihan bertujuan membentuk taruna agar memiliki kemampuan dan penguasaan pengetahuan tentang keimigrasian, dengan dilandasi kepribadian dan kepemimpinan yang tangguh, dengan titik berat pada aspek keterampilan yang mengacu pada profesionalisme.

Kemudian, pengasuhan bertujuan membentuk taruna agar memiliki kemampuan dalam menghayati dan mengamalkan nilai-nilai budaya serta menguasai pengetahuan akademis dengan kepribadian dan kepemimpinan yang tangguh, dengan titik berat pada aspek mental kejuangan.

“Masa alumni AIM banyak ditempatkan di loket-loket pelayanan. Ini tidak benar, dan pasti ada sistem yang yang salah dalam penempatan pegawai di Kementerian Hukum dan HAM,” tandas Elman.

Padahal, kata Elman, boleh dikatakan sebenarnya saat menjadi siswa AIM saja mereka sudah menjadi pegawai keimigrasian yang kerjanya sekolah. Sebab, status para taruna AIM memang bukan mahasiswa, tapi sudah menjadi CPNS.

Computer Assisted Test

Karena banyaknya alumni AIM yang ditempatkan sebagai penjaga loket, Elman pun mengatakan dengan tegas tidak sependapat dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) Bambang Rantam Sarwanto. Bambang mengatakan bahwa  Computer Assisted Test (CAT) yang dikembangkan Badan Kepegawaian Negara (BKN) merupakan metode tes berbasis komputer yang tepat guna menempatkan pegawai berdasarkan sistem meritokrasi (prestasi).

“CAT telah terbukti secara meyakinkan dalam aspek obyektivitas dan transparansi pelaksanaan tes bagi para pesertanya. Hal ini antara lain terbukti dengan pemanfaatan CAT untuk tes Calon Taruna Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP,) dan Akademi Imigrasi (AIM) yang dilaksanakan pada April dan Mei yang lalu,” ujar Bambang saat pelaksanaan tes karakteristik pribadi di lantai 2 gedung CAT BKN Pusat Jakarta, Senin (15/7).

Dalam konteks ini, Kementerian Hukum dan HAM kembali menggandeng BKN dalam proses promosi dan mutasi bagi para pejabat eselon II dan eselon III dilingkungan Kemenkum HAM melalui kegiatan tes karakteristik pribadi. Hasil tes yang diikuti oleh 160 peserta ini merupakan salah aspek pertimbangan bagi Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) Kemenkum HAM.

Elman ternyata berpendapat lain. “Kalau harus menggunakan metode CAT, berarti tumpang tindih dengan pembentukan AIM yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia Nomor:M.08-DL.01-05 tahun 2000 tentang Pedoman Pengajaran, Pelatihan dan Pengasuhan pada Akademi Imigrasi,” ujarnya.

Padahal, tambah Elman, lulusan AIM yang telah di wisuda akan mendapat Brevet Pejabat Imigrasi (PI), dan langsung mengikuti Pendidikan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Pusat Pendidikan Reserse dan Kriminal Polri di Cisarua, Bogor. “Percuma, masa alumni AIM ditempatkan sebagai penjaga loket,” pungkasnya. | Elman Sihombing/SN

FacebookTwitterGoogle+Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IndoNIC.net - Web Hosting Murah (cPanel), Gratis Domain