Gubernur Jatim, Sukarwo: Hidupkan Sikap Gotong-Royong

Gubernur Jatim SoekarwoBlitar, Trans – Dalam upaya membangkitkan kembali semangat gotong-goyong di tengah masyarakat yang kini tengah memudar, Gubernur Jawa Timur DR Sukarwo mencanangkan Bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat X dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke 41.

Kegiatan akbar yang  dihadiri oleh Bupati dan Walikota bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kab/Kota se-Jawa Timur serta jajaran Muspida Kabupaten Blitar, beserta tokoh masyarakat tersebut, dipusatkan di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, Rabu (15 Mei 2013).

Dalam acara yang mengambil tema ”Bangkitkan Semangat Gotong Royong Gerakan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Menuju Masyarakat Mandiri dan Sejahtera” itu, Gubernur Jawa Timur DR Sukarwo mengatakan bahwa membangkitkan kembali semangat gotong-royong itu sangat penting, karena sikap gotong-royong merupakan budaya masyarakat Jawa Timur  khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Gubernur mencontohkan, beberapa hal yang dilupakan dalam konsep pedesaan. “Dahulu, kepala Desa sebagai ketua  adat setiap bulan Suro mengadaan rapat yang namanya udar gelung, untuk membicarakan bagaimana caranya membangun desa. Konsep musyawarah menjadi bagian dari keputusan pada waktu itu,” ujar Gubernur Jatim yang akrab disapa Pakde Karwo itu.

Kepala desa, kata Pakde Kawo, bisa mengundang rakyatnya memakai sarana kentongan sebagai isyarat. Salah memukul kentongan bisa menjadi bencana. Jika kentongan dipukul titir lima kali, ada rojopati dipukul empat kali-empat kali pertanda ada orang gantung diri. Jika dipukul berturut-turut berulang kali sebagai tanda masyarakat untuk berkumpul, karena ada hal penting yang harus disampaikan.

“Ini sebagai simbolik yang dilakukan oleh orang pada waktu itu. Simbolik-simbolik itu merupakan kearifan lokal. Rapat yang dinamakan udar gelung itu dimusyawarahkan untuk mencari mufakat. Di pondok-pondok pesantren di gandok kiri dan kanan masjid, digunakan tempat musyawarah untuk membicarakan masalah sosial, agama dan sebagainya.

Jadi, musyawarah untuk mufakat. Pemimpin mengambil kebijaksanaan melalui musyawarah bukan melalaui suara terbanyak. Musyawarah mufakat merupakan sari pati gotong-royong.

“Ini nilai, ini pemikiran filsafat, ini pemikiran tasauf, maka ada yang namanya gugur gunung, ada gotong-royong. Dulu membangun rumah itu gotong-royong, kerja bakti. Mengapa hal ini penting bagi kita semua, karena jati diri gotong-royong adalah filsafat dari kemanusiaan yang adil dan beradab, menghargai harkat dan martabat bangsa. Semua memakai konsep kekeluargaan, maka Pancasila sebagai sikap dasar dengan Bhineka Tunggal Ika,” katanya.

Hal senada disampaikan oleh Bupati Blitar H. Herry Noegroho, SE, MH,  bahwa semangat gotong-royong harus dibangkitkan kembali,  karena sikap gotong-royong merupakan simbol kebersamaan dalam hidup dan bermasyarakat. ”Dengan sikap kebersamaan menyelesaikan masalah bisa diselesaikan melalui jalan musyawarah, tidak harus melalui gontok-gontokan, dan gegeran. Dengan ini kami cetuskan semboyan “Segoro”, dengan semangat gotong-royong kita bangun Blitar dengan melaui musyawarah gotong-royong,” kata Bupati Blitar.

Pencanangan Bulan Bhakti Gotong-Royong X dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke 41 tingkat Provinsi Jawa Timur yang dipusatkan di Kabupaten Blitar juga ditandai dengan pemukulan kentongan oleh Gubernur Jawa Timur DR Sukarwo yang didampingi oleh Bupati Blitar H Herry Noegroho SE MH.

Pembacaan ikrar gotong-royong yang dibacakan oleh para pemuda lintas, agama, profesi, sosial dan budaya dengan judul “Segoro” yang diterjemahkan sebagai simbol semangat gorong-royong.

Sebagai pemuncak rangkaian kegiatan pencanangan BBGRM Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Blitar, digelar pameran akbar produk ungulan Kabupaten Blitar selama lima hari, 15 hingga 19 Mei 2013 di area calon pusat Pemerintahan Kabupaten Blitar di Kecamatan Kanigoro. | Fauzy

Leave a Reply

ADVERTISEMENT

IndoNIC.net - Web Hosting Murah (cPanel), Gratis Domain
Log in