Pelaku IKM Kota Blitar Kunjungi Kampung Lele – Kab Boyolali

Blitar, Trans – Untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan menumbuhkan kembangkan jiwa kewirausahaan masyarakat Kota Blitar, terutama pelaku industri kecil dan menengah (IKM), Dinas Perindustrian  dan Perdagangan Kota Blitar mengajak sebanyak 18 pelaku industri di tiga wilayah kecamatan Kota Blitar mengunjungi Kampung Lele, Desa Tegalrejo, Kec. Sawit, Kabupaten Boyolali, 9-10 Juni 2012.

“Para pelaku industri yang ada di tiga wilayah kecamatan Kota Blitar diajak untuk melihat dari dekat proses pembuatan kripik rambak dari kulit lele, dan abon yang terbuat dari daging lele, serta olahan lainnya yang bahan bakunya dari ikan lele,” ujar H Hermansyah Permadi, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Blitar.

Menurut Hermansyah, Kampung Lele di Desa Tegalrejo pada tahun 2011 ditetapkan sebagai percontohan kawasan Minapolitan, karena penduduk desa tersebut mayoritas berprofesi sebagai pembudidaya ikan lele.

Bahkan, lanjut Hermansyah, di desa tersebut ada Kelompok Wanita Mina Utama dengan 22 anggota dan semuanya ibu-ibu rumah tangga. Mereka mengolah dan memasarkan hasil budidaya ikan lele dalam bentuk segar, goreng dan bakar.

Ikan yang berkumis tersebut diolah menjadi beraneka macam makanan, seperti abon lele, rambak, kripik dan lain-lain.

“Kami berharap seluruh peserta setelah mengikuti pelatihan dari Kampung Lele bisa mengembangkan ilmu tentang pengelolahan/pembuatan makanan olahan dari ikan lele, yang didapat di wilayah kecamatan masing-masing, agar memperoleh penghasilan tambahan bagi keluarga,” ujar Hermansyah.

Selain melakukan pelatihan, pihak Disperindag Kota Blitar akan memberikan bantuan berupa alat-alat seperti spinner (alat penyacah daging), timbangan dan sailer (alat perekat/penutup plastik) kepada masing-masing peserta.

Tentang anggaran yang digunakan untuk mendanai kegiatan tersebut, Hermansyah menjelaskan bahwa dana yang digunakan adalah dari DAC (Dana Alokasi Cukai) tembakau 2012, karena Disperindag Kota Blitar mendapatkan alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau sebesar Rp1,4 milliar.

“Itu sudah sesuai dengan aturan yang berlaku bahwa penggunaan dana DAC sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 66 Ayat (1) UU No 11 tahun 1995 tentang cukai, sebagaimana telah diubah dengan UU No 30 tahun 2007,” jelasnya.

Lebih rinci, Hermansyah menjelaskan, dana DAC dapat digunakan untuk mendanai kegiatan seperti: peningkatan kualitas bahan baku; pembinaan industri; pembinaan lingkungan social; sosialisasi ketentuan di bidang cukai dan/atau pemberantasan barang kena cukai.

Dalam peraturan yang baru ini, tersirat bahwa dana DAC dapat digunakan untuk sosialisasi. Maka, di dalam kegiatannya Disperindag kota Blitar juga mensosialisasikan agar masyarakat membeli rokok yang menggunakan cukai.

“Bilamana mengetahui seseorang yang mengedarkan rokok tanpa dilekati pita cukai, segera melaporkan kepada pihak berwajib,” pungkas Hermansyah. | Fauzi

FacebookTwitterGoogle+Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>