Muirapuama Band Lebih Bijak Memandang Kehidupan

Stigma negatif bahwa reggae pengkonsumsi ganja, hanya karena ketidaktahuan masyarakat.

 

Pengunjung Sahara Club at Marbella Hotel, Pantai Anyer, Banten, Sabtu (16 Juni 2012) lalu, benar-benar terhibur dengan penampilan Muirapuama Band selama lebih dari satu jam. Mereka dapat menikmati musik reggae sebagai musik jiwa tentang kedamaian dalam menjalani kehidupan secara positif.

Dengan karakter easy going, Muirapuama—dengan personil M Rechan (Aboot) – Vokalis, Intan Gunasari (Nay) – Vokalis, Yogi Abilawa – Melodi, Risnanto Putra – Rhytem, Ray – Bass, Ilham Adi (Inyung) – Keyboard, dan  Dhany – drum—membuktikan upayanya yang senantiasa melakukan hal-hal yang terbaik untuk perkembangan musik reggae.

Muirapuama yang telah memilih genre reggae berdasarkan pengalaman batin itu memang terlihat berbeda dengan kebanyakan band reggae, selama tampil satu jam lebih itu di Sahara Club at Marbella Hotel.

Membawakan lagu Welcome  To My  Paradise, Mona, Bebas Merdeka, Aboot dan Nay—dua vokalis Muirapuama, seolah menunjukkan bahwa esensi musik reggae diperjuangkan, bukan sekedar gimbal atau ganja. Ada esensi penting yang disampaikan, yakni esensi perdamaian, ada kemerdekaan dalam arti sebuah musik, dan lebih pada edukasi agar pengunjung tidak salah mengartikan musik reggae itu sendiri.

Muirapuama juga menunjukkan karakter musik reggaenya sendiri, dengan memasukkan instrumen khas Indonesia, dan mengangkat tema-tema khas Indonesia. “Ada lagu kritik sosial, masalah kemanusiaan, cinta, dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Boleh jadi, itulah yang membuat Muirapuama selama ini bisa dikatakan berbeda dengan grup musik reggae lainnya, karena bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae negara lain seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff.

“Meskipun pasar musik reggae di Indonesia masih kurang, kami akan maju terus. Syukurlah selama ini penonton sangat responsif dan bisa menghargai lagu-lagu Muirapuama. Mereka tetap berjoget dan menikmati alunan musik reggae seperti anda lihat di Sahara Club at Marbella Hotel,” ujar Aboot kepada M Ziqri dari Koran Transaksi, usai membawakan beberapa lagu.

Aboot mengaku dirinya menjadi lebih bijak dalam memandang hidup sejak menggeluti musik reggae. Musik reggae, terutama yang dipopulerkan Bob Marley, menurut Aboot, mengajarkan perdamaian, keadilan, dan anti kekerasan.

“Jadi kami memberontak terhadap ketidak adilan, tetapi tidak anti kemapanan. Kalau reggae tumbuh, maka di Indonesia tidak akan ada perang. Indonesia akan tersenyum dengan reggae,” ujar Aboot mantap.

Namun, Aboot dengan tegas mengatakan bermusik reggae tidak harus identik dengan penampilan ala Bob Marley. “Rasta sejati pun sebenarnya ada di dalam hati,” tandasnya sambil mengepalkan tangan kanan untuk menepuk dadanya.

Sebagaimana diketahui di Indonesia, reggae hampir selalu di identikkan dengan rasta. Padahal, reggae dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. “Reggae adalah nama genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup, way of life,” ujar Aboot, pemusik reggae yang sudah empat tahun belakangan semakin serius menekuni dunia reggae.

Aboot, yang juga mahasiswa Universitas Komputer Bandung itu mengungkapkan keprihatinannya. Sebab, di balik ingar-bingar dan kegembiraan yang dibawa reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik ini. Stigma tersebut bahkan turut melekat pada filosofi rasta itu sendiri.

“Di sini, penggemar musik reggae, atau sering salah kaprah disebut rastafarian, diidentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan,” ungkap Aboot, yang kini sibuk kuliah menyelesaikan skripsi itu.

Padahal, filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup bersih, tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut rasta yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging, dan bahkan mengisap rokok. “Para anggota The Wailers (band asli Bob Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran rastafari,” papar Aboot.

Ia mengungkapkan, tidak semua penggemar reggae adalah penganut rasta, sebaliknya tidak semua penganut rasta harus menyenangi lagu reggae. Reggae di identikkan dengan rasta karena Bob Marley—pembawa genre musik tersebut ke dunia—adalah seorang penganut rasta.

Salah satu bukti bahwa komunitas reggae di Indonesia sebagian besar belum memahami ajaran rastafari adalah tidak adanya pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. “Misalnya mereka ditanya tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, ternyata ada yang tidak tahu. Padahal, itu adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,” ungkap pemuda yang tidak menggelung rambut itu.

Aboot mengakui, dirinya dan Muirapuama bukan seorang penganut rasta. Namun, ia mencoba memahami ajaran rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi satu hakikat filosofi, yakni cinta damai. “Yang saya ikuti cuma cinta damai itu,” tutur Aboot yang tidak mau menyentuh ganja itu.

Namun, ujarnya menjelaskan, meski tidak memahami dan menjalankan seluruh filosofi rastafari, para penggemar dan pelaku reggae di Indonesia mendapatkan sesuatu di balik musik yang mereka cintai itu. “Biasanya, dimulai dari menyenangi musik reggae (dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu kemudian mulai tertarik mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di baliknya,” tuturnya.

Yang pasti bagi Aboot dan Muirapuama sendiri, musik reggae semakin menguatkan kebencian mereka terhadap ketidak adilan dan penyalahgunaan wewenang. Selain itu, menjadi lebih bijak dalam memandang hidup sejak menggeluti musik reggae.

Lantas, bagaimana dengan stigma populis yang hidup dalam masyarakat adalah tantangan untuk para reggae lovers? Ia mengakui, soal rastafari dan reggae adalah hal yang berbeda. Namun, tidak bisa dikesampingkan antara rastafari dan genre musik reggae memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Sebab, kaum rastafari menggunakan reggae sebagai alat atau media perlawanan, seperti halnya punk melawan anarkisme dan sindikalis.

“Nah, ini yang harus segera dijawab di tengah stigma negatif yang hidup dalam masyarakat bahwa reggae adalah rastafarian, bahwa reggae adalah pengkonsumsi ganja. Ketidaktahuan masyarakat yang menyebabkan stigma ini muncul dan hidup. Tinggal cara kita sebagai reggae lovers meluruskan stigma ini menjadi positif,” ujarnya.

Jadi, rastafari adalah spirit perlawanan yang harus tetap hidup dan jadi spirit pembebasan dari belenggu kapitalisme dan neoimperialisme sebagai turunannya. “Kalau dahulu kaum Rastafarian berjuang melawan belenggu perbudakan, kini pun sama halnya. Bedanya, bukan melawan perbudakan fisik melainkan perbudakan budaya dan ekonomi,” ujar Aboot. | Tim Trans

2 Responses for “Muirapuama Band Lebih Bijak Memandang Kehidupan”

  1. edho says:

    mn lagu ny Bang ? pengn denger

  2. edho says:

    mn lagu ny bang ??
    pngen denger

Leave a Reply

ADVERTISEMENT

IndoNIC.net - Web Hosting Murah (cPanel), Gratis Domain
Log in