“Mengingat Peristiwa Sejarah Indonesia Dari Masa ke Masa”

 

Serangkaian Peristiwa Sejarah di Indonesia (Foto:dok)
Jakarta, KORANTRANSAKSI.com - Bung Karno pernah berpesan kepada bangsa Indonesia untuk tidak melupakan sejarahnya. Untuk memenuhi pesan itu, yuk, baca rangkaian peristiwa sejarah Indonesia dari masa penjajahan hingga reformasi berikut ini! Terbentuknya negara Indonesia melalui serangkaian peristiwa panjang dan tak mudah. Sejak masa kolonisasi, pendudukan, hingga pasca-kemerdekaan telah menorehkan banyak peristiwa sejarah di Indonesia.

Sejak masa penjajahan hingga era reformasi, sejumlah peristiwa penting telah terjadi dengan latar belakang yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya tentu telah akrab di pikiran detikers sekalian. Sebut saja Proklamasi Kemerdekaan dan Serangan Umum 1 Maret.

Namun, apakah hanya dua peristiwa itu saja yang terjadi? Tentu tidak! Bila dirinci satu per satu, kejadian penting selama masa penjajahan sampai reformasi akan sangat panjang. Oleh karena itu, KORANTRANSAKSI.com akan mengulik beberapa yang wajib diketahui, diantaranya :

Kedatangan Bangsa Belanda (1596)

Jatuhnya Konstantinopel akibat gempuran Pasukan Turki Utsmani memengaruhi sejarah dunia, termasuk Indonesia. Sebab, dengan jatuhnya kota tersebut, orang-orang barat, seperti Belanda, mencari jalur lain yang menghubungkan dunia timur dan barat.

Dikutip dari artikel ilmiah berjudul Sejarah Pemahaman 350 Tahun Indonesia Dijajah Belanda oleh Ulil Absiroh dkk, Belanda pertama kali datang pada 1596 di bawah pimpinan Cornelis De Houtman. Setelahnya, bangsa Belanda bolak-balik mendatangi Indonesia.

Kehadiran bangsa Belanda di Indonesia mulanya bertujuan memiliki motif ekonomi. Mereka membeli rempah-rempah dari para penduduk lokal. Namun, lama-kelamaan, kondisi tersebut berubah dan menjadi penjajahan karena tingginya tingkat persaingan di antara para negara pendatang.

Konferensi Meja Bundar merupakan peristiwa sejarah di Indonesia yang menandai lepasnya RI dari Belanda (Foto:dok)
Perang Jawa (1825-1830)

Perang Jawa ditokohi oleh pahlawan nasional Pangeran Diponegoro selama lima tahun. Perang meletus saat makam leluhur Pangeran Diponegoro akan dirusak dan campur tangan Belanda dalam urusan internal keraton.

Pangeran Diponegoro menerapkan strategi perang gerilya saat melawan Belanda yang membuat dirinya sulit ditangkap. Namun Belanda berhasil menyudutkan dan menangkap Pangeran Diponegoro di Magelang. Perang Jawa memakan banyak korban jiwa, termasuk warga pribumi dan serdadu Belanda.

Terbitnya Surat Kabar Sin Po (1910)

Surat kabar Sin Po merupakan surat kabar Tionghoa yang dicetak menggunakan Bahasa Melayu yang terbit saat masa penjajahan kolonial. Surat kabar Sin Po memiliki peran besar dan penting dalam sejarah Indonesia yakni menjadi harian surat kabar pertama yang memuat teks lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya.

Harian Sin Po juga memelopori penggunaan nama 'Indonesia' untuk menggantikan penyebutan 'Hindia Belanda'. Surat kabar Sin Po sempat terhenti saat penjajahan Jepang tahun 1942 sebelum dibredel oleh pemerintah setelah peristiwa G30S/PKI tahun 1965.

Berdirinya Organisasi Budi Utomo (1908)

Organisasi yang digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo merupakan organisasi kepemudaan yang menjadi awal pergerakan kebangkitan nasional Indonesia lewat kaum terpelajar.

Organisasi Budi Utomo beranggotakan para kaum intelektual Jawa yang berkuliah di Stovia (School tot Opleiding van Indische Artsen) atau sekolah Pendidikan Dokter Hindia. Dalam perjalanannya anggota Budi Utomo mengalami berbagai pergantian anggota dan pemahaman kultural.

Kongres Pemuda I dan II (1926 & 1928)

Kongres Pemuda pertama terjadi pada 30 April hingga 2 Mei 1926 yang terbentuk di Weltevreden (Lapangan Banteng saat ini). Kongres ini membahas berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan budaya. 

Dinamakan Kongres Pemuda karena perhimpunan ini dihadiri oleh berbagai organisasi pemuda. Organisasi pemuda yang hadir saat itu adalah Jong Java, Jong Sumatera, Jong Betawi dan lainnya. Kongres Pemuda kemudian berlanjut ke Kongres kedua pada 1928 yang dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan Pelajar Indonesia yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda (1928)

Sumpah Pemuda merupakan salah satu peristiwa bersejarah di Indonesia. Sumpah Pemuda menjadi penggerak utama penggerak kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda merupakan hasil keputusan dari Kongres Pemuda Kedua yang berisikan Bertanah Air Satu, Berbangsa Satu, Berbahasa Indonesia.

Sejak 16 Desember 1959 melalui Keppres No. 316 tahun 1959, tanggal 28 Oktober ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda dan hari libur nasional.

Gerakan G30s PKI menjadi salah satu peristiwa di Indonesia (Foto:dok)
Kelahiran Pancasila (1945)

Kelahiran sila-sila Pancasila lahir dalam pidato Soekarno di sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, merujuk BPIP. Isi pidato tersebut kemudian disempurnakan dan dibahas oleh para intelektual bangsa dan ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia.

Istilah Pancasila mengacu pada Bahasa Sanskerta dengan panca yang artinya lima dan sila yang berarti dasar atau asas. 1 Juni ditetapkan sebagai libur nasional melalui Keppres Nomor 24 tahun 2016.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945)

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia merupakan peristiwa sejarah di Indonesia yang sangat penting. Dengan dibacakannya teks proklamasi oleh Ir. Soekarno, Indonesia resmi menjadi negara merdeka pada 17 Agustus 1945.

Pembacaan teks proklamasi bertempat di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat. Teks Proklamasi ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta yang juga menjadi presiden dan wakil presiden pertama Indonesia.

Pertempuran Surabaya (1945)

Selepas proklamasi, Indonesia tidak langsung terbebas sepenuhnya dari belenggu penjajah. Bahkan, pada 25 Oktober 1945, Pasukan Sekutu pimpinan Brigjen AWS Mallaby justru mendarat di Tanjung Perak, Surabaya.

Hadirnya pasukan asing ini memicu kecurigaan tentara dan para pemuda. Setelah terbukti ditunggangi NICA, pada 27 Oktober 1945, pertempuran menyala tidak dapat dihindarkan lagi. Akibat perang tersebut, Brigjen Mallaby menjemput ajalnya.

Pihak Sekutu yang marah mengutus Mayor Jenderal Mansergh untuk membalas. Pada 10 November 1945, Surabaya digempur lewat darat, laut, dan udara. Namun, para pejuang terus bertahan sampai tiga minggu lamanya. Namun, karena kekuatan yang tidak berimbang, Surabaya akhirnya dikuasai sekutu.

Pertempuran Ambarawa (1945)

Menyusul kecamuk api di Surabaya, pada 20 November sampai 15 Desember, pertempuran sengit terjadi di Ambarawa antara TKR (Tentara Keamanan Rakyat) bersama pemuda melawan Pasukan Inggris.

Alasan pecahnya perang ini sama dengan peristiwa sebelumnya, yakni kedatangan Pasukan Sekutu yang ditunggangi NICA, kali ini di Semarang. Setelah bertempur dengan sengit, pasukan Indonesia berhasil memukul mundur musuhnya ke Semarang.

Pertempuran Medan Area (1945)

Di pulau lain, yakni Sumatera, Pasukan Sekutu pimpinan Brigjen TED Kelly mendarat. Sikap pasukan Belanda yang congkak menimbulkan rasa tidak senang di kalangan pemuda dan TKR. Akibatnya, pecah pertempuran pada 13 Oktober 1945.

Berkali-kali konsentrasi TKR berusaha dihancurkan, tetapi tidak berhasil. Akhirnya, pada 10 Agustus 1946, usai Sekutu menguasai Medan, diadakan pertemuan antara komandan-komandan pasukan di Medan Area. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan untuk membentuk Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area yang terus melanjutkan perjuangan.

Bandung Lautan Api (1946)

Bandung telah diduduki Sekutu sejak Oktober 1945. Pasukan Sekutu memerintah pemuda dan TKR untuk menyerahkan senjata hasil rampasan. Selain itu, TKR juga diperintah untuk pergi meninggalkan Bandung Utara paling lambat pada 29 Oktober 1945.

Akibat maklumat pertama diabaikan, maklumat kedua diberikan. TKR, yang kala itu berubah nama menjadi TRI, kemudian perlahan-lahan mundur akibat perintah markas besar. Sembari mundur, mereka melakukan sabotase dan penyerangan ke markas sekutu. Hal ini menyebabkan lautan api melahap Bandung Selatan.

Peristiwa Merah Putih di Manado (1946)

Peristiwa Merah Putih di Manado merupakan sebuah peristiwa penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 14 Februari 1946, di kota Manado, Sulawesi Utara.

Di Manado, semangat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia sangat tinggi di kalangan masyarakat dan pemuda setempat. Pada tanggal 14 Februari 1946, para pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi perjuangan mengadakan aksi pengibaran bendera Merah Putih di berbagai sudut kota Manado.

Perjanjian Linggarjati (1946)

Perjuangan dalam bentuk diplomasi salah satunya adalah Perjanjian Linggarjati yang terjadi pada 15 November 1946. Dalam perjanjian ini, terdapat tiga pokok utama kesepakatan, yakni:

Pemerintah Belanda secara de facto mengakui pemerintah RI atas Jawa, Madura, dan Sumatera.

Pemerintah Belanda dan RI membentuk Negara Indonesia Serikat yang wilayahnya meliputi seluruh Hindia Belanda.

Dibentuknya Uni Indonesia Belanda.

Perjanjian Renville (1947)

Dunia internasional yang bersimpati kepada perjuangan Indonesia membantu mewujudkan upaya diplomasi. Singkat kata, pihak Belanda dan RI sepakat bertemu di atas kapal bernama Renville pada 8 Desember 1947.

Poin-poin kesepakatan Perjanjian Renville adalah:

Kesepakatan gencatan senjata.

Disetujuinya Garis Demarkasi Van Mook.

Kesepakatan untuk menyelesaikan konflik dengan bantuan KTN (Komisi Tiga Negara).

Dibentuknya Negara Indonesia Serikat.

Kedaulatan Indonesia tetap di tangan Belanda selama masa peralihan.

Serangan Umum 1 Maret (1949)

Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan sebuah serangan besar yang dilancarkan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap pasukan Belanda di Yogyakarta, yang pada saat itu menjadi ibu kota Indonesia.

Serangan ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto dengan dukungan dari Panglima Besar Jenderal Sudirman. Tujuan utama serangan ini adalah untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada dan memiliki kekuatan militer yang cukup untuk melawan penjajah.

Pada dini hari tanggal 1 Maret 1949, serangan dimulai dengan koordinasi yang baik antara berbagai kesatuan TNI. Dalam waktu enam jam, pasukan TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta.

Serangan ini menunjukkan kemampuan militer Indonesia dalam merencanakan dan melaksanakan operasi militer skala besar. Keberhasilan ini memberikan semangat dan dorongan moral yang tinggi kepada rakyat Indonesia serta mempermalukan pihak Belanda yang mengklaim telah berhasil menguasai seluruh wilayah Indonesia.

Perundingan Roem Royen dan Konferensi Meja Bundar (1949)

Perjanjian Roem-Royen menandai eksisnya hubungan RI dalam kancah internasional. Pada 14 April 1949, Amerika Serikat memfasilitasi perundingan dengan Belanda. Indonesia diwakili oleh Moh Roem, sedangkan Belanda oleh Van Royen.

Setelah Perundingan Roem-Royen, Konferensi Meja Bundar menyusul digelar pada 23 Agustus-2 November 1949. Hasil pokok dari Konferensi Meja Bundar adalah:

Merekomendasikan terbentuknya Negara Indonesia Serikat.

Dibentuknya UNI RIS dengan Kerajaan Belanda.

Penyerahan Kedaulatan oleh Belanda kepada RIS tanpa syarat.

Pemberontakan G30S/PKI (1965)

Pemberontakan Gerakan 30 September (G30S/PKI) adalah peristiwa yang terjadi pada malam tanggal 30 September hingga 1 Oktober 1965 di Jakarta, Indonesia. Pemberontakan ini dipimpin oleh sekelompok perwira militer yang tergabung dalam organisasi yang menamakan dirinya 'Gerakan 30 September'.

Mereka berupaya untuk mengkudeta pemerintah dan menguasai kekuasaan dengan menculik dan membunuh enam jenderal Angkatan Darat dan seorang perwira menengah. Para korban tersebut kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi.

Dalam waktu singkat, Gerakan 30 September berhasil menguasai beberapa lokasi strategis di Jakarta, termasuk stasiun radio dan beberapa markas militer. Namun, upaya mereka untuk mengambil alih kekuasaan dengan cepat digagalkan oleh pasukan militer yang setia kepada pemerintah.

Mayor Jenderal Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), mengambil alih komando dan memimpin operasi penumpasan pemberontakan tersebut. Pada tanggal 1 Oktober, pemberontakan berhasil dipadamkan, dan pasukan yang terlibat dalam G30S/PKI ditangkap atau dibunuh.

Setelah pemberontakan tersebut, terjadi aksi balasan yang melibatkan penangkapan, penahanan, dan eksekusi massal terhadap orang-orang yang diduga terlibat atau mendukung PKI.

Runtuhnya Orde Baru (1998)

Keruntuhan masa pemerintahan Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto pada Mei 1998 menjadi titik balik kebangkitan era reformasi Indonesia. Dilihat dari laman Kabupaten Sukoharjo, rakyat yang telah muak bergabung membentuk aliansi besar.

Presiden Soeharto didesak untuk mundur setelah berkuasa selama 32 tahun. Beliau akhirnya menyatakan mundur dari posisinya pada 21 Mei 1998. Era reformasi yang akan segera dimulai, dituntut bisa mengubah sistem politik, transparansi dalam pemerintahan, dan penegakan hukum lebih baik. (RED)

 



Posting Komentar

0 Komentar